Kamis, 10 Juni 2010

ASKEP JIWA DENGAN HDR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam hidup dan kehidupan kita sering dinasehati tentang kepemilikan harga diri. Tiap manusia yang ada di dunia ini pasti memiliki harga diri dan tentunya masing-masing orang selalu menginginkan harga diri yang tinggi. Dalam proses pertumbuhan dan proses kehidupan kita, ternyata tidak mudah dalam membentuk sikap diri yang positif. Karena kita mungkin mempunyai pandangan yang tidak menyenangkan terhadap diri kita sendiri karena pengaruh komentar teman-teman, ortu, saudara atau orang lain. Bisa juga karena kita merasa gagal, tidak dapat berbuat apa-apa, merasa tidak dapat bertanggung jawab terhadap sesuatu yang ditugaskan, atau tidak bisa berkata jujur dan sebagainya.
Seorang perawat adalah sebagai tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum. Dalam menghadapi pasien, seorang perawat harus memahami perbedaan-perbedaan harga diri yang ingin dipertahankan oleh setiap pasien.
Perawat harus bertindak sopan , murah senyum, dan menjaga perasaan pasien. Ini harus dilakukan karena perawat adalah membantu dalam proses penyembuhan pasien bukan memperburuk keadaan. Dengan adanya saling percaya antara perawat dengan pasien maka diharapkan seorang perawat bisa menjalin hubungan yang lebih akrab dengan pasien.
Dengan hubungan baik ini, maka akan terjalin sikap saling menghormati dan menghargai diantara keduanya. Dengan demikian akan mempermudah perawat dalam melakukan asuhan keperawatan.






BAB II
KONSEP DASAR

A. Pengertian
1. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dengan ideal diri. (Stuart, 2005).
2. Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri dan berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri dan kemampuan diri ( Budi Anna Keliat, 2000)
3. Harga diri rendah adalah cenderung untuk memilih dirinya negative dan merasa lebih rendah dari orang lain (Hamid Achir Yani, 2005)

B. Penyebab
Menurut Suliswati, 2005 bahwa factor predisposisi gangguan harga diri adalah sebagai berikut:
1. Penolakan dari orang lain
2. Kurang penghargaan
3. Pola asuh yang salah; terlalu dilarang, terlalu dikontrol, terlalu dituruti, terlalu dituntut dan tidak konsisten
4. Persaingan antar keluarga
5. Kesalahan dan kegagalan yang berulang
6. Tidak mampu mencapai standar yang ditentukan

C. Tanda dan gejala harga diri rendah
Menurut Suliswati, 2005 tanda dan gejala harga diri rendah yaitu:
1. Merasa dirinya lebih rendah dibandingkan dengan orang lain
2. Mengkritik diri sendiri dan atau orang lain
3. penurunan produktivitas
4. Destruktif yang diarahkan pada orang lain
5. Gangguan dalam berhubungan
6. Rasa diri penting yang berlebihan
7. Perasaan tidak mampu
8. Rasa bersalah
9. Ketegangan peran yang dirasakan
10. Pandangan hidup yang pesimis
11. Keluhan fisik
12. Pandangan hidup yang bertentangan
13. penolakan terhadap kemampuan personal
14. Destruktif terhadap diri sendiri
15. Pengurangan diri
16. Menarik diri secara social
17. Penyalahgunaan zat
18. Menarik diri dari realitas
19. Khawatir

D. Rentan Respon Konsep Diri
Respon individu terhadap respon dirinya berfluktasi sepanjang rentan konsep diri yaitu adaptif sampai maladaptive (Budi Anna, 2005).

Respon adaptif Respon maladptif




Aktualialisasi konsep diri Harga diri Kekacauan Deporsonalisai
Diri Positif rendah identitas

1. Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalama nyata yang sukses dan dapat diterima.
2. konsep diri positif apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam beraktualitas diri.
3. Harga diri rendah adalah individu cenderung untuk memilih dirinya negative dan merasa lebih rendah dari orang lain.
4. Kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek dari masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikologis kepribadian apda masa dewasa yang harmonis.
5. Deporsonalisasi adalah perasaan yang tidak realististis dan asing terhadap diri sendiri dan berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain.

E. Penatalaksanaan
 Farmakoterapi
a. Chlorpromazine
1) Indikasi
Untuk sindrom psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, daya nilai norma daqn sosial dan tilik diri terganggu, tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
2) Mekanisme kerja
Memblokade dopamine pada reseptor paska
3) Efek samping
Sedasi, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung), gangguan ekstra pyramidal (distonia akut, akathsia, sindroma Parkinson/tremor, bradikinesia rigiditas), gangguan endokrin, metabolic, hematologik, agranulosis, biasanya untuk pemakaian jangka panjang.



4) Kontra indikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran disebabkan CNS Depresan.
b. Haloperidol (HLP)
1) Indikasi
Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta dalam fumgsi kehidupan sehari-hari.
2) Mekanisme kerja
Obat anti psikosia dalam memblokade dopamine pada reseptor paska sinaptik neuron di otak khususnya system limbik dan system ekstra piramidal.
3) Efek samping
Sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung).
4) Kontra indikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran.
c. Trihexyphenidyl (THP)
1) Indikasi
Segala jenis penyakit parkinson, termasuk paska ensepalitis dan ideopatik, sindrom Parkinson, akibat obat misalnya reserpin dan fenotiazine.
2) Mekanisme kerja
Obat ini psikosis dalam memblokade dopamine pada eseptor paska sinaptik neuron di otak khususnya system limbic dan system ekstra pyramidal.
3) Efek samping
Sedasi dan inhibisi psikomotorik
Gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung).
4) Kontra indikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran.
 Terapi aktivitas kelompok
Terapi aktivitas kelompok yang dapat dilakukan untuk klien dengan harga diri rendah adalah TAK stimulasi persepsiyaitu mengidentifikasi hal positif diri dan melatih menggunakan aspek positif diri.





















BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atas masalah klien.
Data yang didapatkan dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Data subyek adalah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini didapatkan melalui wawancara perawat, klien dan keluarga.
2. Data obyektif yang ditemukan secara nyata. Data ini didapatkan melalui observasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.
Menurut Suliswati, 2005 pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan.
1. Faktor predisposisi
Berbagai faktor penunjang terjadinya perubahan konsep diri pada seseorang, faktor ini dapat dibagi sebagai berikut:
a. Faktor yang mempengaruhi harga diri
 Penolakan dari orang lain
 Kurang penghargaan
 Pola asuh yang salah: terlalu dilarang, terlalu dikontrol, terlalu dituruti, terlalu dituntut dan tidak konsisten
 Persaingan antar saudara
 Kesalahan dan kegagalan yang berulang
 Tidak mampu mencapai standar yang ditentukan.
b. Faktor yang mempengaruhi citra tubuh:
 Kehilangan atau kerusakan bagian tubuh (anatomi dan fungsi)
 Perubahan ukuran, bentuk dan penampilan tubuh
 Proses patologik penyakit dan dampaknya terhadap struktur maupun fungsi tubuh
 Prosedur pengobatan seperti radiasi, kemoterapi, transplantasi.
c. Faktor yang mempengaruhi identitas diri:
 Ketidak percayaan orang tua kepada anak
 Tekanan dari teman sebaya
 Perubahan struktur sosial
2. faktor presipitasi
a. Trauma
Masalah spesifik sehubungan dengan konsep diri adalah situasi yang membuat individu sulit menyesuaikan diri atau tidak dapat menerima khususnya trauma emosi seperti penganiayaan fisik, seksual dan psikologis pada masa anak-anak atau merasa terancam kehidupannya atau menyksikan kejadian berupa tindakan kejahatan.
b. Ketegangan peran
Ketegangan peran adalah peranan frustasi ketika individu merasa tidak adekuat melakukan peran yang bertentangan dengan hatinya atau tidak merasa cocok dalam melakukan perannya.
3. Perilaku
a. Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah
 Mengkritik diri sendiri
 Merasa bersalah dan khawatir
 Merasa bersalah dan tidak mampu
 Menunda keputusan
 Gangguan berhubungan
 Menarik diri dari realita
 Merusak diri
 Membesar-besarkan diri sebagai orang penting
 Perasaan negatife terhadap tubuh
 Ketegangan peran
 Pesimis menghadapi hidup
 Keluhan fisik
 Penyalahgunaan zat
b. Perilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi
Afek
 Kehilangan identitas diri
 Merasa asing dengan diri sendiri
 Perasaan tidak nyata
 Merasa sangat terisolasi
 Tidak ada perasaan berkesinambungan
 Tidak mampu mencari kesenangan
Persepsi
 Halusinasi
 Kekacauan identitas
 Sulit membedakan diri dengan orang lain
 Gangguan citra tubuh
 Menjalani kehidupan seperti dalam mimpi
Kognitif
 Bingung
 Disorientasi waktu
 Gangguan berpikir
 Gangguan daya ingat
 Gangguan penilaian
Perilaku
 Pasif
 Komunikasi tidak sesuai
 Kurang spontanitas
 Kurang pengendalian diri
 Kurang mampu membuat keputusan
 Menarik diri dari hubungan sosial




Mekanisme koping
Klien gangguan konsep diri menggunakan mekanisme koping yang dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Koping jangka pendek
 Aktivitas yang dapat memberikan kesempatan lari sementara dari krisis
 Aktivitas yang memberikan identitas pengganti sementara
 Aktivitas yang memberi kekuatan atau dukungan sementara terhadap konsep diri
 Aktivitas yang mewakili jarak pendek untuk membuat masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan
b. Koping jangka panjang
 Penutupan identitas
Adopsi identitas premature yang diinginkan oleh orang penting bagi individu tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi dan potensi individu.
 Identitas negatif
Asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh nilai-nilai dan harapan masyarakat.

Masalah Keperawatan
Menurut Budi Anna Keliat, 2000 adapun masalah keperawatan yang bisa muncul pada harga diri rendah antara lain:
1. Harga diri rendah
2. Gangguan citra tubuh
3. Ideal diri tidak realistis
4. Gangguan identitas personal
5. Perubahan penampilan peran
6. Ketidak berdayaan
7. isolasi sosial
8. Berduka disfungsional
Pohon Masalah
Menurut Budi Anna Keliat, 2000 pohon masalah dari klien dengan harga diri rendah sebagai berikut:

Efek/akibat……………………………………..



Masalah utama………………………………..



Etiologi ……………………………………….


B. Diagnosa Keperawatan
1. Harga diri rendah
2. Isolasi sosial
3. Defisit perawatan diri
4. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

C. Rencana keperawatan
Dx.1 Harga diri rendah
Tujuan umum: klien mampu berinteraksi dengan lingkungan
SP I p
1. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
3. Klien dapat menetapkan perencanaan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki


Kriteria hasil:
1. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki (aspek intelektual, aspek sosial budaya, aspek fisik dan aspek emosional)
2. Klien dapat menyebutkan kemampuan yang dapat digunakan
3. klien dapat membuat rencana kegiatan harian
Intervensi
1. Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
Rasional: mengingatkan bahwa klien manusia biasa
2. Bantu klien menilai kemampuan klien yang masih dapat digunakan
Rasional: Memberi kesempatan klien untuk menilai dirinya.
3. Bantu klien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai kemampuan klien.
Rasional: membantu klien dalam membentuk harapan yang realita
4. Latih pasien sesuai kemampuan yang dipilih.
Rasional: meningkatkan harga diri klien
5. Berikan pujian yang wajar terhadap jeberhasilan klien.
Rasional: memberikan harapan dan meningkatkan rasa percaya diri klien
SP II p
Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
Kriteria hasil:
Klien melakukan kegiatan sesuai kemampuan dan dalam kondisi sakit
Intervensi:
1. Evaluasi jadwal kegiatan harian klien
Rasional: Untuk mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan klien
2. Latih kemampuan kedua.
Rasional: Mengetahui sampai dimana realita dan harapan klien.
3. Anjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
Rasional: Motivasi klien untuk melakukan kegiatan selanjutnya.
SP I k
1. Klien dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga
2. keluarga dapat memahami pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami klien beserta proses terjadinya.
Kriteria hasil:
1. Keluarga dapat mengungkapkan perasaannya selama merawat klien
2. keluarga menyebutkan pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah beserta proses terjadinya
Intervensi;
1. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien.
Rasional: Mengetahui masalah-masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat klien.
2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami klien beserta proses terjadinya.
Rasional: meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai harga diri rendah.
3. Jelaskan cara-cara merawat klien dengan harga diri rendah
Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien.
SP II k
Keluarga dapat mengetahui cara merawat pasien dengan harga diri rendah.
Kriteria evaluasi:
1. Keluarga mampu mendemonstrasikan cara perawatan klien dengan harga diri rendah.
2. Keluarga dapat berpartisipasi dalam perawatan klien dengan harga diri rendah.
Intervensi:
1. Latih keluarga mempraktikkan cara merawat klien dengan harga diri rendah.
Rasional: menambah pengetahuan keluarga dalam merawat klien di rumah
2. Latih keluarga cara merawat langsung kepada klien dengan harga diri rendah.
Rasional: membantu dalam proses pemulihan klien.
SP III k
Klien mendapat motivasi dari keluarga berupa nasehat atau dukungan moril.
Kriteria hasil:
1. Klien memiliki jadwal kegiatan harian di rumah.
2. Klien teratur dalam meminum obat.


Intervensi:
1. Bantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning).
Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang penggunaan obat dengan teratur dan kontrol ulang secara teratur.
2. Jelaskan follow up klien setelah pulang.
Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang kondisi klien.

Dx.2 Isolasi sosial
Tujuan umum: Klien mampu berinteraksi dengan lingkungan.
SP I p:
Klien dapat mengidentifikasi penyebab menarik diri.
Kriteria evaluasi:
Klien dapat menyebutkan:
1. Penyebab menarik diri
2. Keuntungan berinteraksi dengan orang lain.
3. Kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.
Intervensi:
1. Identifikasi penyebab isolasi sosial klien.
Rasional: Mengetahui sejauh mana pengetahuan klien tentang menarik diri sehingga perawat dapat merencanakan intervensi selanjutnya.
2. Berdiskusi dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain.
Rasional: menilai pendapat/persepsi klien mengenai keuntungan dari menarik diri.
3. Berdiskusi dengan klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.
Rasional: menilai pendapat/persepsi klien mengenai kerugian dari menarik diri.
4. Ajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang
Rasional: mungkin klien merasa tidak nyaman, malu atau tidak mampu berhubungan sehingga perlu dilatih secara bertahap dalam berhubungan dengan orang lain.
5. Anjurkan klien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian.
Rasional: Untuk meningkatkan harga diri klien. Mengetahui sejauh mana manfaat yang dirasakan klien dalam berhubungan.
SP II p
Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap.
Kriteria evaluasi :
1. Klien dapat membuat jadwal kegiatan harian.
2. Klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial bertahap.
Intervensi:
1. Evaluasi jadwal kegiatan harian klien.
Rasional: Untuk mengetahui sejauh mana klien dapat membina hubungan dengan oranglain.
2. Berikan kesempatam kepada klien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang.
Rasional: melatih klien untuk berhubungan dengan orang lain.
3. Bantu kien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.
Rasional: Untuk meningkatkan harga diri klien.
SP III p
Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain.
Kriteria evaluasi:
1. Klien dapat membuat jadwal kegiatan harian.
2. Klien dapat memasukkan cara berkenalan dengan orang lain dalam jadwal kegiatan harian.
Intervensi:
1. Evaluasi jadwal kegiatan harian.
Rasional: Untuk mengetahui sejauh mana klien dapat membina hubungan dengan orang lain.
2. Berikan kesempatan kepada klien berkenalan dengan dua orang atau lebih.
Rasional: Melatih klilen untuk berhubungan dengan orang lain.
3. Anjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.
Rasional: meningkatkan kemampuan dalam menyusun kegiatan secara bertahap.
SP I k
Keluarga dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga.
Kriteria evaluasi:
1. Keluarga dapat menjelaskan perasaannya.
2. Keluarga dapat menjelaskan pengertian, tanda dan gejala menarik diri.
3. Keluarga dapat mempraktekkan cara merawat klien menarik diri.
Intervensi:
1. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien
Rasional: Untuk mengurangi beban psikologis sehingga masalah hilang atau berkurang.
2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami klien beserta proses terjadinya.
Rasional: Meningkatkan keterampilan keluarga tentang menarik diri.
3. Jelaskan cara-cara merawat klien dengan harga diri rendah.
Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien merawat diri.
SP II k
Keluarga dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga
Intervensi:
1. Latih keluarga mempraktekkan cara merawat klien dengan harga diri rendah.
Rasional: meningkatkan keterampilan keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
2. Latih keluarga melakukan cara merawat langsung klien dengan harga diri rendah.
Rasional: Meningkatkan keterampilan keluarga tentang cara merawat klien menarik diri.
SP III k
Keluarga dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga.
Intervensi:
1. Bantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning).
Rasional: Membantu perawatan klien dengan farmaakologi.
2. Jelaskan follow up klien setelah pulang.
Rasional: Meningkatka pengetahuan akan pentingnya follow up.

D. Implementasi
Implementasi adalah tindakan keperawatan yang disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan, sebelumnya melakukan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana dan tindakan sesuai dengan kebutuhan klien dengan kondisinya saat ini.

E. Evaluasi
Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus-menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Menurut Budi Anna Keliat, bahwa hasil akhir yang diharapkan pada klien dengan harga diri rendah adalah:
1. Kllien dapat mengungkapkan perasaannya terhadap penyakit yang diderita
2. Klien dapat menyebutkan aspek positif dan kemampuan dirinya.
3. Klien berperan serta dalam perawatan dirinya.
4. Klien percaya diri dengan menetapkan keinginan dan tujuan yang realitas.













BAB IV
PENUTUP


A. Kesimpulan
Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan ( Townsend, 1998 ). Menurut Schult & Videbeck ( 1998 ), gangguan harga diri rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diiri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan. (Budi Ana Keliat, 1999). Jadi dapat disimpulkan bahwa perasaan negatif terhadap diri sendiri yang dapat diekspresikan secara langsung dan tak langsung.hal ini ditandai dengan adanya upaya menarik diri dari lingkungannya,yang disebabkan dari harga diri rendah yaitu berduka disfungsional.

B. Saran
Bermutu atau tidaknya pelayanan Keperawatan di suatu Rumah Sakit sangat bergantung pada kerjasama antar Perawat itu sendiri. Apabila tidak adanya suatu hubungan yang baik antara sesama anggota dan klien maka akan sulit membangun kepercayaan masyarakat dalam Asuhan Keperawatan yang diberikan. Agar kinerja dalam keperawatan berjalan dengan efektif maka seorang perawat juga perlu memahami setiap karakter yang berbeda dari setiap klien. Selain dapat memberikan hasil kerja yang terbaik, dalam memberikan Asuhan Keperawatan juga dapat dilakukan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

D Carpenito, L.J. 1998. Buku saku Diagnosa keperawatan (terjemahan), edisi 8. EGC: Jakarta.
DepKes RI. 1989. Petunjuk Teknik Asuhan Keperawatan Paasien Gangguan Skizofrenia. Direktorat Kesehatan Jiwa: Jakarta.
Imron. 2009. Gangguan Jiwa. http://www.imron46.co.cc/2009/02/gangguan-konsep-diri-harga-diri-rendah.html. Diperoleh Tanggal 8 Juni 2009.
Keliat, B.A. 1994. Seri Keperawatan Gangguan Konsep Diri. EGC: Jakarta.
Sabiah, S.Kp. 2003. Konsep Diri.
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/files/2008/12/konsep-diri.pdf. Diperoleh Tanggal 8 Juni 2009.
Stuart, G.W & sundeen, S.J. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa (terjemahan), Edisi 3. EGC: Jakarta.
Townsend, M.C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri (terjemahan), Edisi 3. EGC: Jakarta.
File:///G: /asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-gangguan-harga diri.html. Diperoleh tanggal 19 Maret 2010.




D

Tidak ada komentar: